Minggu, 30 Mei 2010

BIARKAN AKU BERDOA

Biarkan Aku Berdoa




Melihat segala yang telah aku lalui adalah benar jika ia menjadi pelajaran. Tapi bila ia berubah menjadi kebencian sebenarnya tidak apa, walaupun jika kebencian itu tersimpan hanya akan merusak riasanmu yang begitu mahal. Padahal kau harus berulang kali berangkat ke salon hati tiap hari hingga 5 kali. Atau hingga kau harus pergi ke spa kalbu tiap 2 kali seminggu.

Sungguh mahal, sayang jika kita korbankan hanya untuk kebencian yang akhirnya membakar segala tulisan indah yang tercatat dalam lembaran-lembaran sutra kehidupan.

Andai saja kebencian itu terbersit dalam lokus-lokus benakmu, sungguh wajar karena ia adalah sifat manusia. Namun jangan pernah kau pupuk kebencian dengan menyampaikan kebencian itu ke ladang-ladang dimana kau biasa berkumpul, karena ia akan seperti alga hijau di permukaan danau yang tercemar nitrat.


Andai keburukan orang lain sampai dalam syaraf auditori mu, maka ia adalah wajar karena engkau hidup bersama berbagai karakter nafas. Namun apakah kau akan membiarkan ia terbenam dalam memorimu yang tak dapat tergantikan dengan produk elektronik apa pun. Karena sekali terbenam, maka keburukan itu akan menjadi kebencian terhadap saudaramu yang melahirkan cercaan serta makian.

Andai kebencian itu melahirkan doa maka tak apa ia kau simpan. Tapi ingatlah mencerca lebih mudah terucap dari lidah dan hati dari pada doa yang tulus.

Andai saja kau ikhlaskan, maka biarlah doa yang terlahir dari hati yang terdalam semoga menjadi lebih baik dan tidak selamanya berada dalam kubangan yang penuh dengan kotoran.

Itu adalah lebih baik dari pada menyebarkan kebencianmu. Karena saudara kita lebih butuh doa. Dari pada makian yang terkadang lebih memuaskan kita, karena seolah kita merasa lebih baik dari yang lain.

Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda